Kamis, 30 Agustus 2012
Ericsson Indonesia berminat ikut Tender Broadband Nasional.
Ditulis Oleh : Nelson Panjaitan
PT Ericsson Indonesia, perusahaan global penyedia infrastruktur telekomunikasi, sebelumnya juga menyatakan minatnya untuk berpartisipasi di proyek broadband nasional. Perusahaan akan mengembangkan layanan mobile broadband bekerja sama dengan beberapa operator telekomunikasi.

Hardyana Syintawati, Vice President Marketing & Communications Ericsson Indonesia, mengatakan perusahaan lebih berminat mengembangkan mobile broadband daripada berinvestasi di jaringan serat optik. Alasannya, keterjangkauan layanan mobile broadband lebih massif dan pembangunannya lebih cepat untuk kondisi geografis Indonesia yang berupa kepulauan.

Menurut Hardyana, peluang pertumbuhan broadband di Indonesia sangat tinggi, terutama dengan tren pertumbuhan penjualan perangkat yang terkoneksi dengan broadband, seperti netbook, komputer tablet, dan smartphone. Untuk itu, Ericsson berencana bekerja sama dengan beberapa operator untuk mengembangkan mobile broadband melalui teknologi high speed packet access (HSPA) dan enhanced data rates for GSM evolution (EDGE). Perusahaan juga siap mengembangkan teknologi long term evolution (LTE) atau 4G.

Sebelumnya pemerintah telah mendapat komitmen dari 11 perusahaan untuk mendukung proyek broadband nasional yang menggunakan skema kemitraan swasta-pemerintah atau public-private partnership. Nilai investasi 11 perusahaan itu diperkirakan Rp 6,19 triliun pada tahun ini.

Ke-11 perusahaan yang dimaksud adalah PT Telkom, PT Xirka Silicon Technology, PT Xirka Dama Persada-Huawei, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti), PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Indosat Mega Media, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Hutchison CP Telecommunications, PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Hariff.

Target proyek broadband nasional adalah menciptakan akses internet berkecepatan tinggi di seluruh Indonesia. Pada 2014, target penetrasi broadband di Indonesia naik menjadi 30% terhadap populasi penduduk, dari hanya 2% di 2010.

Eddy Satriya, Asisten Deputi Urusan Telematika dan Utilisasi Kementerian Koordinator Perekonomian, mengatakan rencana investasi di industri telematika ini mencakup pembangunan infrastruktur backbone, perangkat di tingkat konsumen (CPE), hingga aplikasi dan konten. Total nilai investasi yang dikeluarkan diperkirakan mencapai Rp 30,4 triliun hingga 2014.

[ Kembali ]
www.medcomm-group.com © 2026
Privacy PolicyTerms Of Use
All rights reserved