 |
|  |
|  | | • |
| | • |
| | • |
|
|  | | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
|
|  | | |  | | |  |
|
|
| Kamis, 24 Mei 2012 | | PGN Tak Ambil Untung dari Menaikkan Harga Gas | | Ditulis Oleh : Demed Bago | Jakarta, (Analisa). PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS/PGN) mengklaim tidak mengambil keuntungan dari penyesuaian harga gas bumi, sebab BUMN gas ini sudah mengeluarkan biaya hingga 200 persen.
Direktur Utama PGN Hendri Prio Santoso saat dihubungi di Jakarta, Rabu (23/5), mengatakan akibat penyesuaian harga gas tidak dipungkiri ada pihak-pihak yang mengeluh dan kaget. Namun, ia berkeinginan mengajak seluruh pihak yang berkepentingan untuk memanfaatkan gas agar mendukung rencana pemerintah melakukan konversi BBM ke gas.
"Gas kita kebanyakan diekspor. Itulah sebabnya harga gas tinggi. Gas Singapura bisa mencapai 14-17 dolar AS per MMBTU. LNG kita diekspor karena harganya tinggi di luar," ungkap Hendri usai RUPST perseroan.
Ia menambahkan untuk mengonversi lebih banyak gas yang diserap di dalam negeri, maka perseroan memerlukan pengertian seluruh "stakeholders" agar PGN mendapatkan alokasi yang dibutuhkan selama ini. Alokasi gas perseroan kurang karena banyaknya produsen gas lebih memprioritaskan pasar ekspor.
"Kalau harga keekonomian gas lebih baik, maka produsen di hulu lebih akan mendukung pasokan gas untuk dalam negeri," ungkapnya.
Ia mengatakan setelah melakukan penyesuaian harga gas bumi, maka perseroan mengharapkan jaminan dan keamanan pasokan gas tersebut.
Menyoal keinginan PT PLN Persero mendapatkan harga gas yang baik, ia mengakui masih melakukan negosiasi dengan PLN. Memang, PLN sudah siap membeli gas LNG di Muara Karang yang disediakan oleh PGN, melalui Nusantara Regas dan Kargo dari Bontang dengan harga belasan dolar AS.
"Nah, menjadi pertanyaan juga mengapa penyesuaian harga ini [10 dolar AS per MMBTU] kok keberatan. Logikanya, kalau siap beli LNG maka gas pipa tidak menjadi masalah sebab kita ingin "fairness treatment" berlaku untuk semua industri," ujarnya.
Menurut dia, perseroan ingin melakukan proses negosiasi dengan PLN sebab posisi PGN terjepit, sehingga diperlukan dialog yang baik di antara kedua belah pihak.
"Namun, kami juga tengah mengupayakan jalan tengah untuk pelanggan di seluruh lini dari rumah tangga sampai industri tetap mendapatkan gas yang dibutuhkan. Inilah titik temu yang diperlukan agar sektor hulu dan hilir tetap mendapatkan gas," paparnya.
Kendati demikian, ia menegasksan keuntungan perseroan didukung oleh laba anak perusahaan. "Stereotipe yang menguntungkan kami dari menaikkan harga gas itu salah, sebab "cost" kami sudah naik sehingga kami membutuhkan titik temu agar yang diperoleh "stakeholders" tidak dirugikan," ungkapnya. (Ant) |
[ Kembali ] | |