 |
|  |
|  | | • |
| | • |
| | • |
|
|  | | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
| | • |
|
|  | | |  | | |  |
|
|
| Senin, 14 Mei 2012 | | FSRU Belum Jelas, PLTGU 452 MW Bakal Tertunda | | Ditulis Oleh : Demed Bago | MedanBisnis – Medan. Belum adanya kejelasan pembangunan terminal apung gas atau Floating Storage Regasification Unit (FSRU) di Belawan berpengaruh terhadap pembangunan PLTGU berkapasitas 2 X 226 mega watt (MW). Rencananya PLTGU itu akan dibangun di Sicanang, Belawan.
General Manager PT Cahaya Sakti, pembangun PLTGU, Nelson Panjaitan mengatakan, menurut rencana, pihaknya akan memulai tahap konstruksi pada Oktober 2012. Namun, akibat persoalan FSRU tersebut, maka pembangunan akan ditunda. "Sesuai dengan jadwal yang kita tetapkan, pembangunan tahap konstruksi akan dilakukan pada Oktober 2012. Namun, dengan adanya wacana untuk mengalihkan FSRU Belawan, ke Lampung, maka pembangunan ini bakal tertunda," jelasnya.
Nelson mengatakan, keberadaan terminal apung ini sangat penting bagi operasional PLTGU yang membutuhkan jaminan pasokan gas. Sebab, pihaknya membutuhkan gas antara 80-100 million metric british termal units (MMBTU) yang menurut rencana dipasok oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk melalui FSRU Belawan tersebut.
"Kami sudah dalam tahap pembicaraan dengan PGN untuk pasokan gas tersebut pada tahun lalu. Namun dengan adanya wacana pemindahan fasilitas FSRU itu, maka kami belum tahu bagaimana kelanjutan pasokan gas yang ada," jelasnya kepada MedanBisnis, Sabtu (12/5).
Pembangunan PLTGU di Sicanang Belawan tersebut dilakukan PT Cahaya Sakti bekerjasama dengan perusahaan asal Jerman Ferrostal dan Siemens. Total biaya yang dibutuhkan sebesar US$ 421 juta.
Nelson mengatakan, jika FSRU dipindahkan ke Lampung dan pemerintah jadi menggunakan gas dari kilang Arun milik PT Pertamina Gas di Aceh, maka pihaknya harus berunding dengan Pertamina.
"Hal yang menjadi persoalan adalah berapa besarnya gas yang akan dialirkan melalui jalur pipa ke Sumut ini. Sebab, untuk kebutuhan PLTGU tersebut saja sekitar 100 MMBTU. Belum lagi untuk kebutuhan pembangkit listrik milik PLN di Sicanang serta untuk kebutuhan industri di Sumut," tuturnya.
Nelson berharap, pemerintah segera mengambil keputusan final dan menetapkan apakah tetap membangun FSRU di Belawan atau mengalirkan gas dari Aceh. "Bagi kami, keputusan final ini sangat penting dan dalam waktu secepatnya. Sehingga kami dapat mengambil langkah-langkah strategis, agar pembangunan PLTGU ini dapat terealisasi tepat waktu, yakni tahun 2014," jelasnya.
Nelson menegaskan, pihaknya tidak ingin saat pembangunan PLTGU tersebut berjalan, ternyata pasokan gas yang ada tidak sesuai dengan harapan. "Kami tidak ingin PLTGU ini nanti tidak beroperasi akibat ketiadaan pasokan gas. Sebab, investasi yang kami siapkan untuk pembangunan PLTGU ini mencapai US$ 420 juta," jelasnya.
Menurut rencana, PLTGU dengan kapasitas total 452 MW ini, akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di kalangan industri dan masyarakat. Nelson mengatakan, sekitar 80% dari listrik yang dihasilkan akan digunakan untuk dunia industri dan 20% untuk masyarakat.
"Di tahun lalu, kami juga sudah mengadakan pembicaraan dengan kalangan pelaku usaha di Kawasan Industri Medan (KIM) dan sudah ada kesepakatan untuk memasok listrik. Begitu juga dengan pihak PLN saat ini tengah dilakukan pembicaraan," ujarnya.
Nelson mengatakan, saat ini sudah ada dua investor gas supplier yang melakukan komu nikasi dengan manajemen PT Cahaya Sakti untuk memasok gas kepada PLTGU tersebut. "Investor ini juga siap membangun FSRU di Belawan tersebut jika memang pemerintah memindahkannya ke Lampung. Namun sampai saat ini, kami masih sangat berharap adanya realisasi pembangunan FSRU Belawan," tuturnya.
Nelson mengatakan, kebutuhan gas saat ini di Sumut sudah sangat mendesak. Untuk tahun ini saja, pihaknya memperhitungkan Sumut membutuhkan gas sebesar 300 MMBTU, baik untuk kebutuhan pembangkit listrik maupun industri. "Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi di Sumut yang terus meningkat, maka kebutuhan permintaan gas diperkirakan 7% - 10% setiap tahunnya," ujarnya.
PT Cahaya Sakti menurut rencana akan membangun PLTGU hingga tiga tahap. Total energi listrik yang dihasilkan mencapai sebesar 1.300 MW. Saat ini, perusahaan tersebut telah mengoperasi PLTG di Tarakan, Kalimantan dengan kapasitas 25 MW. Nelson menegaskan, pihaknya tetap berkomitmen membangun PLTGU di Sumut. Apabila FSRU tersebut tidak dibangun di Belawa, maka pihaknya akan mencari gas dari sumber-sumber lain. (hisar hasibuan )
|
[ Kembali ] | |